Terus Berproses Menjaga Iman: Refleksi Peringatan Isra Mi’raj Yayasan Al Jihad Sekaligus Haul Abah Dr. KH. Nian Atmadja

Keagamaan

Libur semester ganjil telah berakhir, semua guru dan peserta didik bersiap kembali mengikuti KBM semester genap mulai Senin, 6 Januari 2025. Namun sebelum itu, Yayasan Al Jihad telah melakukan berbagai agenda. di antaranya mengikuti Kegiatan Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79 pada Jum’at, 3 Januari 2025 dan Peringatan Isra Mi’raj Yayasan Al-Jihad sekaligus memperingati haul Pendirinya yaitu Abah Dr. KH. Nian Atmadja Bin H. Jaing Jayadi.

Peringatan Isra Mi’raj dan Haul dilaksanakan pada Ahad, 5 Januari 2025 bertempat di Graha Atmadja yang berada di Komplek Yayasan Al Jihad. Sahabat, sesepuh, keluarga, pejabat, dan tokoh masyarakat Kota Depok turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Drs. KH. Yuyun Wirasaputra, M.M., KH. Syihabudin Ahmad, dan Walikota Depok terpilih Dr. H. Supian Suri, M.M. beserta istri. Acara diawali terlebih dahulu dengan dzikir tahlil, khatmul Qur’an, dan pembacaan Maulid Nabi oleh H. Nur Muhammad dan Tim Hadrah Yayasan Al Jihad.

Mewakili Keluarga Besar DR. KH. Nian Atmadja, Pembina Yayasan Al Jihad sekaligus kakak dari almarhum, Drs. H. Abdur Rozzaq menyampaikan sambutannya. Turut memberikan testimoni, sahabat seperjuangan almarhum, Drs. KH. Yuyun Wirasaputra, M.M. yang mengajak hadirin mengingat kembali kiprah dan perjuangan almarhum sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok pertama sekaligus tokoh NU Kota Depok yang sangat mencintai tanah kelahirannya dan juga selalu berfikir visioner bagaimana bisa memberikan manfaat pada masyarakat seluas-luasnya.

Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Qari Nasional Ust. Muhammad Martin, S.Pd. yang juga salah satu alumni MTs Al Jihad. Selanjutnya hadirin menyimak tausiyah yang disampaikan oleh KH. Syihabudin Ahmad yang merupakan Ketua MUI Kota Depok.

Beliau menyampaikan poin-poin penting berkaitan dengan proses menjaga keimanan sebagai pilar dasar kehidupan seorang hamba dari sejak awal kehidupannya dalam janin (alam arwah) hingga akhir hayatnya.

Mengawali tausiyahnya, beliau mengutip satu hadis Nabi Saw.: “Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Hadis di atas cukup populer di kalangan masyarakat, namun Beliau menggali beberapa makna yang terkandung dalam hadis tersebut secara lebih mendalam.

  • Pertama, Ketika manusia meninggal dunia maka putuslah kemampuannya untuk melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan pahala, tapi karena Rahmat Allah Swt. masih ada hal-hal yang menyebabkan pahala tetap bisa mengalir kepadanya, yaitu karena shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih.
  • Kedua, Lafadz “yuntafa-‘u” menunjukkan makna bahwa ilmu itu tidak hanya bermanfaat untuk si pemiliknya (diamalkan) melainkan juga bermanfaat untuk orang lain dengan jalan mengajarkannya.
  • Ketiga, lafadz yang digunakan dalam hadis adalah “waladin” bukan “ibnin” yang menunjukkan makna bahwa anak disini bukan hanya merepresentasikan anak kandung/biologis melainkan anak dalam perspektif yang lebih luas, misal anak murid, anak asuh, anak angkat, dan lainnya. Ini adalah bentuk kemurahan Allah Swt. karena mungkin ada orang yang tidak ditakdirkan memiliki keturunan. Sedangkan lafadz “waladin shalih” menunjukkan bahwa ada proses pendidikan yang dilakukan agar anak kemudian tumbuh menjadi anak yang shalih yang senantiasa mendoakan.

Melanjutkan hadis di atas, dengan demikian kewajiban orang tua adalah menjaga iman. QS. Al-A’raf ayat 172 menunjukkan bahwa sejak alam arwah setiap janin dalam kandungan ibunya sudah beriman kepada Allah Swt. yang tergambar dalam redaksi ayatnya. Allah berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar! (Engkau Tuhan Kami) dan Kami menjadi saksi.” Hal ini diperkuat oleh Hadis Nabi Saw.: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi”.

Dengan demikian, proses menjaga iman adalah proses terus menerus yang tidak boleh berhenti. KH. Syihabudin Ahmad selanjutnya mengungkapkan beberapa cara menjaga iman yang telah dimulai sejak alam arwah tadi, di antaranya:

  • Pertama, melakukan aqiqah pada anak yang lahir dengan melakukan penyembelihan sesuai ketentuan.
  • Kedua, memerintahkan shalat ketika anak berusia 7 tahun dimana sebelumnya anak dibiasakan melaksanakan shalat sedini mungkin serta memisahkan tempat tidurnya sesuai perintah Nabi Saw.
  • Ketiga, Perbanyak berdo’a kepada Allah Swt. karena Allah Swt. berfirman dalam QS. Ghafir ayat 60: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.”

Memahami konteks doa itu pasti diterima, maka cara “diterimanya” bisa jadi melalui tiga cara:-

  • Pertama, langsung dikabulkan.
  • Kedua, Allah mengganti doa kita dengan kesehatan atau kesuksesan anak cucu kita.
  • Ketiga, tidak dikabulkan di dunia tapi disimpan pahalanya di akhirat.

Kunci utamanya adalah meyakini pilihan Allah adalah pilihan yang paling benar karena pilihan manusia biasanya dipengaruhi nafsu. Maka begitu indah kehidupan seorang yang beriman karena terjaga urusannya oleh dua hal, yaitu syukur dan sabar sebagaimana Nabi Saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.” (HR Muslim).

Acara kemudian ditutup dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim peserta didik Yayasan Al Jihad mulai dari RA, MI, MTs, dan MA Al Jihad yang semoga semakin menambah keberkahan acara. Benarlah kiranya gambaran Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kebaikan yang kita lakukan pada orang lain sesungguhnya adalah apa yang kita tanam untuk diri kita sendiri. (MM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *