Hadist

BAB Wudhu

Hadis ini menjelaskan salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad Saw. yang sisa air wudhunya menjadi cahaya yang tampak pada hari kiamat ketika manusia dikumpulkan. Hadis ini sekaligus memotivasi kita untuk senantiasa berusaha menjaga wudhu karena keutamaannya.

BAB Sholat

Hadis ini menggambarkan ketekunan dan kecintaan Nabi Muhammad dalam melaksanakan ibadah, khususnya ibadah di malam hari. Dengan keagungan dan kedudukan Nabi dalam pandangan Allah, Nabi tetap ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur, di mana salah satu indikator rasa syukur seorang hamba adalah tekun dan cinta dalam melakukan ibadah kepada Allah Swt. Sungguh teladan yang luar biasa dari Nabi Saw.

BAB Do'a

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Swt. sangat gembira mendapati hamba-Nya bertaubat melebihi gambaran seseorang yang mendapati kembali hewan tunggangannya yang sangat berharga yang pergi tanpa arah. Esensi taubat adalah tindakan meninggalkan berbagai kemaksiatan saat itu juga, tetap konsisten untuk meninggalkannya di masa yang akan datang, serta melengkapi apa-apa yang kurang pada masa lampau.

BAB Adab

Hadis ini menggambarkan keluasan Rahmat Allah Swt. Kasih sayang yang terjadi antara makhluk Allah Swt. di dunia adalah taufiq dari Allah yang Maha Penyayang. Jika dengan satu Rahmat di dunia, seorang mu’min sudah merasakan ni’matnya iman, Islam, Al-Qur’an, shalat, kasih sayang, dan ni’mat Allah yang lainnya, maka betapa besarnya Rahmat Allah di akhirat yang kekal dan merupakan tempat pembalasan pahala.

BAB Hal-hal yang meluluhkan hati

Hadis di atas menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan secara konsisten adalah amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw. Konsistensi menunjukkan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang melihat kemampuan dirinya dalam melakukan amalan (sunnah) serta terus menjaga motivasi dan semangat dalam mengerjakannya agar bisa dilakukan secara konsisten.

BAB Makanan

Hadis di atas menggambarkan akhlak Nabi Saw. yang menghargai makanan dan tidak pernah mencelanya. Bila tidak berselera, beliau akan meninggalkannya. Makanan sejatinya adalah termasuk rizqi dari Allah yang patut disyukuri. Selain itu, celaan terhadap makanan bisa menyakiti atau membuat kecewa orang yang membuatnya atau menyajikannya.